Rabu, 29 Mei 2013

Sejarah Kota Pekanbaru

Mesjid Agung
An-Nur

a. Nama Pekanbaru

Senapelan itu lah nama yang dikenal sebelum nama Pekanbaru. Pekanbaru dahulunya adalah kawasan ladang, dengan adanya perubahan dari hari ke hari daerah ini seakan disulap menjadi sebuah perkampungan yang dinamakan dengan Senapelan. Perkampungan Senapelan kemudian berpindah ke sebuah pemukiman, yang selanjutnya disebut dengan dusun Payung Sekaki, letaknya berada tepian muara Sungai Siak.
Perkembangan Senapelan sangat erat kaitannya dengan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Awal mulanya semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah tinggal di Senapelan. Beliau Mendirikan istana miliknya di daerah yang bernama Kampung Batu, daerah ini berdekatan dengan kampung Senapelan tersebut.Seiring dengan perkembangan maka pada tanggal 23 Juni 1784, nama Senapelan pun diubah menjadi Pekan Baharu. Setelah penetapan tersebut, Senapelan lebih dikenal dengan nama Pekan Baharu, atau dalam percakapan sehari-hari kita menyebutnya dengan Pekanbaru.

b. Perkembangan Kota Pekanbaru Sebelum Merdeka.

Perkembangan Kota Pekanbaru, pada awalnta tidak bisa terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai jalur transportasi dalam mendistribusikan hasil-hasil bumi dari kawasan pedalaman maupun dari dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir yakni Selat Malaka. Sehingga pada abad ke 18 negeri Senapelan ini menjadi kawasan pasar bagi para pedagang yang berasal dari Minangkabau.
Pada tanggal 19 oktober 1919 didasarkan pada Besluit Van Het Inlandsch Zelfbestuur Van Siak No. 1, maka Pekanbaru ditetapkan sebagai bagian dari Distrik Kesultanan Siak. Akan tetapi pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukan ke bagian wilayah Kampar Kiri yang dikepalai seorang controleur yang berstatus landschap dan berkedudukan di Pekanbaru sampai tahun 1940. Selanjutnya menjadi Ibukota Onderafdeling Kampar Kiri sampai 1942. Setelah Jepang mengusai, Pekanbaru dikepalai oleh gubernur militer yang diberi istilah gokung.

c. Perkembangan Kota Pekanbaru Setelah Merdeka.

Setelah Indinesia merdeka, berdasarkan pada ketetapan Gubernur Sumatra di Kota Medan tanggal 17 Mei 1946 No. 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut dengan Haminte atau Kotapraja. Selanjtunya pada 19 Maret 1956, didasarkan pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1956 RI, Pekanbaru pun diubah menjadi sebuah daerah otonom kota kecil yang terkabung dalam lingkaran Provinsi Sumatra Tengah.
Jembatan Layang

Selanjutnya tanggal 9 Agustus 1957 didasarkan pada Undang-Undang Darurat No. 19 Tahun 1957 RI, Pekanbaru pun masuk dalam bagian dari wilayah Provinsi Riau yang baru saja terbentuk. Kota Pekanbaru sendiri baru resmi menjadi ibukota Provinsi Riau pada tanggal 20 januari 1959 didasarkan pada Kepmendagri Desember 52/I/44-25. Sebelumnya yang menjadi ibukota Provinsi Riau adalah Tanjung Pinang yang sekarang telah menjadi ibukota Provinsi Kepulauan Riau.
Saat ini Pekanbaru telah berkembangpesat menjadi sebuah kota perdagangan yang cukup prospek mengingat posisinya berada pada jalur Internasional yang strategis. Perkembangan perdagangan di Pekanbaru dijangkakan akan semakin mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kota ini bahkan sempat mendapatkan julukan sebagai Kota Seribu Ruko, karena jumlah ruko sebagai pusat perdagangan yang hampir ditemukan sepanjang jalan Kota Pekanbaru. Visi Riau 2020 merangkum rencana pembangunan dan pengembangan Kota Pekanbaru khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya.

Sekian dulu mengenai sejarah Kota Pekanbaru, mohon masukan demi kesempurnaan tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar